
MENGGUNAKAN WAKTU KITA DENGAN BIJAKSANA
Orang bijaksana bukan saja memikirkan umurnya yang bertambah, tetapi lebih memikirkan setiap tahun hidupnya sudah berkurang satu tahun. Setiap tahun kita mengganti kalender berarti kita sudah lebih dekat ke kubur satu tahun. Setiap hari kita merobek penanggalan kita, berarti hidup kita sudah berkurang satu hari lagi. Dengan pikiran demikian kita akan menjadi orang yang bijaksana.
Bagaimana memakai waktu yang sedikit untuk mencapai hasil yang terbesar, yang bernilai kekal. Kita harus bertanggung jawab melipatgandakan segala kemampuan, sehingga tidak menyia-nyiakan waktu dan Anugerah Tuhan.
Entah kita menggunakan waktu kita dengan bijaksana atau tidak, dampaknya di depan nanti akan tetap ada. Bedanya, apakah kita akan dilupakan sebagai orang-orang yang hanyut di dalam sejarah atau menjadi orang-orang yang menentukan dan yang mengubah sejarah?
Apakah kita menjadi orang-orang yang berkenan di hadapan Allah atau menjadi orang-orang yang akan menghadapi murka Allah? Biarlah kita senantiasa berbijaksana mengingat apa yang kita kerjakan di dalam dunia yang sementara ini semata-mata untuk kemuliaan Tuhan Yesus sendiri.
MENGHITUNG HARI-HARI KAMI
Mengapa kita perlu menghitung hari-hari kita? Bayangkan jikalau di dunia ini tidak ada sistem kalender dan tidak ada definisi waktu seperti detik, menit, jam, bulan, tahun, dan seterusnya.
Seperti apakah kita akan melewati waktu-waktu yang ada?
Mungkin kita akan seperti orang yang dianugerahkan mata yang baik tetapi, ketimbang melihat, sengaja membuat dirinya buta. Alangkah bodohnya. Begitu juga kita jika kita memilih untuk acuh tak acuh dalam menghitung hari-hari yang ada. Tanpa disadari kita telah hanyut di dalam waktu itu sendiri.
Biasanya manusia menghitung waktu yang ada dari pagi sampai malam. Contohnya seperti hari ini: saya bangun pagi-pagi dan memulai hari saya, bersiap-siap untuk bekerja. Ketika malam tiba, sudah waktunya beristirahat dan menutup hari yang akan lewat.
Apakah mungkin menghitung hari dengan cara terbalik? Kenapa tidak? Alkitab sendiri menghitung mulai dari gelap menuju terang. “Jadilah petang dan jadilah pagi, ...” (Kejadian 1:5, 8, 13, 19, 23, 31). Dari sini kita dapat belajar bagaimana mempunyai perhitungan akan hari-hari yang penuh kesulitan dan susah untuk di lewati hari-hari di mana kita perlu berjuang sekuat tenaga, baru kita berhak menuju hari-hari terang. Sungguh bertolak belakang dengan konteks sekarang ini, di mana banyak sekali orang yang hanya mau hidup enak tetapi tidak mau berjuang sedikit pun.
Bagaimakah kita dapat menghitung hari-hari kita?