Tuesday, June 9, 2026

3. MENGAPA BANYAK ORANG SAMPAI MELUPAKAN TUHAN

 

MENGAPA BANYAK ORANG SAMPAI MELUPAKAN TUHAN

Mengapa banyak orang yang sampai melupakan Tuhan dan hal-hal rohani lainnya dan memilih untuk menghabiskan hidupnya untuk mencari dan mengejar hal-hal yang ada dalam dunia ini?

Penulis Amsal bersaksi “Aku berlelah-lelah ya Allah, aku berlelah-lelah sampai habis tenagaku.” Perkataan ini menyiratkan bahwa penulis kitab Amsal dalam hidupnya ia telah bekerja keras, yang saking kerasnya ia bekerja ia sampai berkata “sampai habis tenagaku.”

Namun, dalam segala jerih lelahnya, ia malah kehilangan apa yang penting dan utama dalam hidup manusia, yaitu Tuhan. Itulah yang membuat Dia berkata “aku ini lebih bodoh dari orang lain,” tidak kupelajari hikmat sehingga ia tidak dapat mengenal “Yang Maha Kudus.”

Jika ia membandingkan dirinya dengan orang lain, penulis Amsal merasa dirinya adalah orang yang terbodoh,” Ia tidak mengerti dan tidak menyadari bahwa seluruh dunia ini dikendalikan, dipelihara dan dimiliki oleh Tuhan.”

Ia dulu tidak pernah memikirkan mengenai adanya kuasa surga yang ada di bumi dan tidak memikirkan mengenai siapakah yang mengendalikan angin/alam hingga angin atau alam itu tidak menghancurkan manusia,

Ia juga tidak memikirkan mengenai siapakah yang telah memeliharakan ikan di air yang menjadi sumber penghidupan manusia,

ia tidak memikirkan siapakah yang telah membatasi ujung bumi, yang menjaga bumi tetap ada seperti sekarang, ia tidak memikirkan semuanya itu.

Penulis Amsal merasa itulah kebodohannya yang terbesar. Kesadaran inilah yang membuat penulis kitab Amsal memberikan nasehat kepada pembacanya untuk tidak seperti dia, untuk melihat apa yang penting dan utama dalam hidup, apakah itu? FIRMAN ALLAH!

Seorang hamba Tuhan diundang ke sebuah persekutuan kaum pria. Setelah menyampaikan Firman Tuhan, ada seorang bapak bertanya kepadanya: “Mengapakah uang tidak boleh menjadi hal terpenting dalam hidup manusia, bukankah manusia butuh uang, segala sesuatunya pun butuh uang?”

Sang hamba Tuhan berkata: “Manusia memang membutuhkan uang, siapa di dunia ini yang tidak membutuhkan uang?” Namun, kita harus menyadari bahwa ada yang

tidak bisa dibeli dengan uang, apakah itu? Kehidupan setelah kematian, atau keselamatan hidup kita. Walaupun manusia butuh uang, namun uang bukanlah satu-satunya bahkan bukan hal yang utama yang manusia harus cari. Manusia bukan hanya butuh uang, namun manusia butuh Tuhan.”

Kebenaran seperti inilah yang juga disadari oleh penulis Amsal, sehingga ia seolah-olah berkata “wahai manusia… ” Sadarlah ada yang lebih berharga dari pada “apa yang ada dalam dunia ini” dan “apa yang dicari manusia dalam dunia ini,” Apa yang jauh lebih berharga dari pada isi dunia ini? Jawabannya adalah mengenal Tuhan.

Pengalaman yang sama juga membuat Rasul Paulus menyadari pentingnya mengenal Tuhan. Ketika ia membandingkan segala kebanggaan dalam dunia ini dengan pengenalan akan Allah dalam Kristus, maka ia menyebut semua yang ada dalam dunia ini, semua yang dicari manusia dalam dunia ini seperti sampah jika dibandingkan dengan Tuhan.

Sebuah perbandingkan yang sangat ekstrem dari Alkitab, nilai dunia ini tidak sebanding dengan pengenalan akan Allah. 

Kepada jemaat di kota Filipi, Rasul Paulus memberikan kesaksian bagimana kehidupannya sebelum mengenal Tuhan dan setelah ada dalam Tuhan.

“ …  Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:  disunat pada hari ke delapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.  Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.

Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus .” Filipi 3:4-8.

SENIMENULISISIHATITUHAN

AJARAN TENTANG ROH KUDUS, Kisah RASUL 5:3-4

 <iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/s8skN87ioic?si=K1uG0ZVHlVGuWS3M" title="YouTube video player" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>

Thursday, May 28, 2026

2. FIRMAN ALLAH DAPAT DIPERCAYAI

 


FIRMAN ALLAH DAPAT DIPERCAYAI

Keyakinan iman seseorang akan Firman Allah menentukan apakah seseorang dapat mempercayai Alkitab ataukah tidak. Dengan demikian ada kaitan antara iman seseorang dengan logika berpikir yang ia miliki saat membaca Alkitab. Pada satu sisi, keyakinan iman seseorang membuatnya dapat melihat kehadiran Allah di balik penulisan kitab suci, tetapi di sisi yang lain, logika berpikir yang dipengaruhi oleh keyakinan iman seseorang akan membuat iman orang tersebut makin bertumbuh.

Untuk dapat membaca Alkitab dengan benar, seseorang perlu untuk mendengarkan bagaimana Alkitab menjelaskan mengenai dirinya sendiri. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 2 Timotius 3:16 Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:16 berkata bahwa segala tulisan adalah diilhamkan Allah. Apakah dalam Perjanjian Lama, kita menemukan klaim yang mirip? Penulis kitab Amsal juga menegaskan hal yang sama tetapi dalam perkataan yang berbeda. Ia berkata bahwa semua Firman Allah adalah murni. Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Amsal 30:5.

Ketika kitab Amsal dituliskan, pada waktu itu memang belum ada kitab-kitab Perjanjian Baru, di zamannya setidaknya ada dua kelompok kitab yang sudah lengkap yang diterima sebagai Firman Allah, yakni kitab Taurat dan Para Nabi. Penulis kitab Amsal dipakai Tuhan untuk menegaskan bahwa semua firman Allah adalah murni.

Yang menarik adalah sebelum ia bertemu dengan kebenaran Firman Tuhan, penulis kitab Amsal adalah orang yang hidup jauh dari Tuhan. Ia menceritakan mengenai pengalaman hidupnya dalam ayat 1b-4. 13 Perkataan Agur bin Yake dari Masa. Tutur kata orang itu: Aku berlelah-lelah, ya Allah, aku berlelah-lelah, sampai habis tenagaku. Sebab aku ini lebih bodoh dari pada orang lain, pengertian manusia tidak ada padaku. Juga tidak kupelajari hikmat, sehingga tidak dapat kukenal Yang Mahakudus. Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapakah namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu! Amsal 30:1-4.

Banyak orang mengerti betul apa yang dikatakan oleh penulis Amsal, yakni, apa artinya bekerja keras sedemikian rupa sehingga kita merasa kehabisan tenaga. Meskipun penulis kitab Amsal sudah bekerja keras sedemikian rupa, ia mengalami apa yang terjadi dengan penulis kitab pengkhotbah. Setelah ia bekerja sedemikian keras, yang ia rasakan hanyalah kesia-siaan dan kekosongan. Itulah sebabnya saat ia melirik ke belakang, ke masa lalunya, seperti seseorang yang saat berkendaraan melihat ke spion mobilnya, ia kemudian menemukan bahwa ia telah melewatkan apa yang utama dan penting dalam hidupnya; apakah itu? Apakah yang dia lewatkan adalah kesempatan untuk senang-senang atau kesempatan untuk bersosialisasi atau waktu bersama keluarga? Ternyata bukan itu, yang terlewatkan dalam hidupnya adalah “TUHAN.” 

51. KRONOLOGI MASA DEPAN MENURUT SISTEM AMILENIAL




 

Tuesday, May 26, 2026

ALKITAB TIDAK PERNAH SALAH

ALKITAB TIDAK PERNAH SALAH

Martin Luther menegaskan: “Alkitab tidak akan pernah salah … [dan] Alkitab tidak dapat salah, yang pasti adalah Alkitab tidak dapat bertentangan dalam dirinya sendiri; pertentangan dalam Alkitab hanya nampak dalam mata orang-orang yang tidak berpengertian dan orang-orang munafik yang keras hati/tidak mau bertobat.”

Apa yang Martin Luther katakan adalah benar, orang yang sungguh-sungguh percaya Tuhan pasti tidak akan pernah berkata “Alkitab tidak dapat dipercayai” atau berkata bahwa “Alkitab tidak benar,” sebab ia memahami bahwa Alkitab bukanlah sekadar buku biasa yang ditulis oleh seorang manusia tetapi Alkitab adalah Firman Allah. Sebagai Firman Allah, penulis sebenarnya dari Alkitab adalah pribadi Allah sendiri yang berbicara melalui perantaraan manusia.

Alkitab sendiri bersaksi bahwa Alkitab adalah benar dan dapat dipercayai sebab di balik para penulis Alkitab ada Allah yang bekerja. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 2 Timotius 3:16. Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah. 2 Petrus 1:20-21.

Tidak ada bukti yang lebih kuat dapat meyakinkan kita bahwa Alkitab adalah benar dan dapat dipercayai selain dari kesaksian Alkitab sendiri. Klaim bahwa Alkitab adalah benar menjadi bukti penting dalam memahami otoritas Alkitab ataupun peran Alkitab dalam kehidupan manusia di sepanjang zaman.

Sebelum seseorang menafsirkan Alkitab, ada beberapa fondasi teologi yang perlu diperhatikan dan hal-hal tersebut menjadi paradigma awal bagi seseorang yang harus ada sebelum ia membaca dan menafsirkan kitab suci. Kevin Vanhoozer dalam bukunya “Is There Meaning in the Text?” mengingatkan bahwa masalah dalam penafsiran Alkitab bukan terletak pada metode yang sering kali tidak sempurna tetapi pada diri dan keyakinan sang penafsir. Ada perbedaan antara menafsir Alkitab dengan perspektif iman atau tanpa keyakinan iman.


KALIMAT PENDEK

KITAB 1 KORINTUS

RHEMA HARI INI

KITAB MATIUS