Tulisan Firman dalam pencerahan yang sederhana untuk menghidupi hidup yang sederhana menjadi DASYAT BERSAMA TUHAN.
Wednesday, July 22, 2026
Tuesday, July 21, 2026
Saturday, July 11, 2026
MENYEDIAKAN "PERAHU" DI TENGAH KESIBUKAN
MENYEDIAKAN "PERAHU" DI TENGAH
KESIBUKAN (10 Menit)
Masuk ke ayat 9: "Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya
karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya."
Ini adalah detail
yang sangat menarik. Mengapa Yesus membutuhkan perahu? Apakah Yesus takut pada
orang banyak? Tentu tidak. Yesus menyuruh menyediakan perahu sebagai pembatas,
sebuah jarak aman (jarak spasial). Mengapa? Supaya Dia tidak terhimpit oleh desakan
fisik orang banyak, sehingga Dia tetap bisa mengajar mereka dengan efektif dari
atas perahu. Perahu itu memberikan ruang dan keheningan di tengah
kekacauan kerumunan.
Mari kita bawa ilustrasi dan ayat ini ke dalam konteks hidup kita hari ini sebagai masyarakat umum. Setiap hari, dari Senin sampai Sabtu, bahkan mungkin sampai Minggu, hidup kita dipenuhi oleh "himpitan" kerumunan dunia.
· Himpitan tagihan bulanan.
· Himpitan target pekerjaan dari atasan.
· Himpitan urusan rumah tangga dan anak-anak.
· Belum lagi himpitan notifikasi media sosial
di ponsel kita yang berbunyi setiap menit.
Pikiran kita begitu penuh sesak dan
berisik. Akibatnya apa? Kita tidak lagi bisa mendengar suara Tuhan yang lembut.
Kita terlalu lelah untuk membaca firman-Nya. Pelayanan kita di gereja menjadi
kering karena kita melayani dalam kondisi rohani yang terhimpit dan stres.
Wednesday, July 1, 2026
MEMBONGKAR KONTEKS SEJARAH BAHASA ROH DI JEMAAT KORINTUS 1 Korintus 14:21-25.
MEMBONGKAR
KONTEKS SEJARAH BAHASA ROH DI JEMAAT KORINTUS
1 Korintus 14:21-25.
21. Dalam hukum Taurat ada tertulis: ”Oleh
orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku
akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan
Aku, firman Tuhan.”
22. Karena itu karunia bahasa roh adalah
tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman;
sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak
beriman, tetapi untuk orang yang beriman.
23. Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul
bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah
orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka
katakan, bahwa kamu gila?
24. Tetapi kalau semua bernubuat, lalu
masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua
dan diselidiki oleh semua;
25. segala rahasia yang terkandung di dalam
hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku:
”Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.”
MEMBONGKAR KONTEKS SEJARAH BAHASA ROH DI JEMAAT KORINTUS - 1 Korintus 14:21-25 - PDT KARYADI M.
Deskripsi:
Apa sebenarnya yang terjadi di jemaat Korintus sehingga Rasul Paulus harus memberikan teguran keras mengenai penggunaan Bahasa Roh?
Dalam khotbah kali ini, kita akan menggali lebih dalam konteks sejarah dan teologis di balik 1 Korintus 14:21-25. Mengapa bahasa roh bisa menjadi "tanda bagi orang yang tidak percaya" dan bagaimana pengaruh budaya paganisme di Korintus membentuk praktik ibadah mereka saat itu?
Mari kita pelajari prinsip penting tentang ketertiban, pembangunan jemaat, dan bagaimana setiap karunia Roh Kudus seharusnya memuliakan Tuhan, bukan menonjolkan diri sendiri.
📌 Poin Utama Khotbah:
- Makna kutipan nubuat Yesaya dalam tulisan Paulus.
- Perbedaan esensial antara Karunia Bahasa Roh dan Bernubuat.
- Mengapa "pengertian" jauh lebih penting daripada sekadar "fenomena" dalam ibadah.
- Latar belakang sejarah budaya "ekstasi" di kota Korintus kuno.
Semoga pembahasan ini membawa pencerahan bagi iman kita semua. Selamat menyaksikan dan kiranya Roh Kudus menuntun kita dalam seluruh kebenaran.
Dukung Channel Ini: Jika video ini memberkati Anda, silakan klik LIKE, SHARE, dan SUBSCRIBE untuk mendapatkan update khotbah dan pelajaran Alkitab lainnya dari PDT KARYADI M.
Thursday, June 25, 2026
5. MENGAPA FIRMAN TUHAN BEGITU PENTING
MENGAPA FIRMAN TUHAN BEGITU PENTING?
Amsal mengambarkan Firman Tuhan sebagai perisai yang
melindungi kita, Rasul Paulus menggambarkan bahwa Firman Allah adalah juga
pedang yang kita gunakan untuk mengalahkan lawan. MENGAPA FIRMAN TUHAN BEGITU
PENTING? Jawabannya tentu adalah sebab hanya firman Tuhan yang merupakan
kebenaran Allah yang teruji, yang dapat dijadikan patokan dalam hidup kita
dalam memilah dan mimilih yang benar dan salah.
Startegi iblis sejak awal adalah membuat manusia gagal dalam
mengenali mana yang benar dan salah. Itulah sebabnya manusia harus berpegang
kepada apa yang tidak berubah, apa yang teruji, yakni Firman Allah.
Bagaimanakah cara iblis menyesatkan manusia? Dengan menambahi
dan mengurangi arti firman Tuhan. Peristiwa Taman Eden Mengamati Mengumpulkan
Informasi mengingatkan kita bagaimana Iblis mencoba mereduksi atau mengurangi
arti dari Firman Tuhan.
Hal inilah yang membuat nenek moyang kita Adam dan Hawa
kemudian jatuh ke dalam dosa. Ada sebuah syair lagu ditulis oleh Russel Kelso
Carter pada tahun 1886, ia menulis sebuah hymne berjudul Standing on the
Promises “Berdiri [berpegang] pada Janji-janji [Allah].”
Russel adalah seorang yang sangat berpotensi. Ia adalah
seorang yang cerdas dan memiliki kehidupan yang baik. Meskipun demikian,
diusianya yang ke 30, ia mengalami sakit jantung yang parah, saat itulah ia
menulis lagu ‘Standing on Promises.” Dalam salah satu baitnya, ia menulis:
“Berdiri tegap atas janji yang tidak akan pernah gagal
Ketika badai keraguan begitu kuatnya dan ketakutan menyerang
Dengan perkataan Allah yang hidup, Aku akan mengalahkannya Berdiri tegap atas
janji Tuhan” Firman Tuhan membuat Russel sembuh, bukan dari sakit Jantung yang
dia alami tetapi dari rasa kecewa karena kondisi hidupnya yang tidak sesuai
dengan apa yang dia harapkan. Firman Tuhan juga yang memampukannya setia
melayani sampai akhir hayatnya.
Itulah sebabnya jika seorang Kristen tidak mengenal Firman
Allah, tidak bertumbuh dalam pengajaran yang benar akan firman Allah, maka
tidak mungkin ia akan tetap kuat untuk hidup di jalan Tuhan. Kebenaran inilah
yang juga dilihat oleh penulis kitab Mazmur, yang menuliskan Mazmur 1. Ia
menegaskan bahwa kita harus hidup menjauhkan diri dari jalan orang berdosa.
Namun, hal tersebut tidak cukup, kita haruslah mencintai
Firman Tuhan. Mengapa demikian? Jawabannya adalah sebab Firman Tuhanlah yang
akan membimbing hidup kita untuk dapat memilah dan memilih yang benar.
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang
fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam
kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang
merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi
aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu
daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Mazmur 1:1-3
BERTOBAT - MARKUS 1:21-28
Video ini membahas khotbah Pdt. Karyadi M mengenai peristiwa di rumah ibadat di Kapernaum (Markus 1:21-28), di mana Yesus menunjukkan kuasa-Nya dengan mengajar dan mengusir roh jahat. Berikut adalah poin-poin utama dari video tersebut:
- Yesus Mengajar dengan Kuasa: Berbeda dengan ahli Taurat, Yesus mengajar dengan otoritas yang membuat orang takjub (0:32-0:43). Namun, banyak orang di Kapernaum dan Nazaret hanya berhenti pada rasa kagum tanpa benar-benar percaya atau membangun hubungan pribadi dengan-Nya (2:33-3:15, 7:18-7:27).
- Kehadiran Iblis di Gereja: Pdt. Karyadi menegaskan bahwa gereja bukanlah tempat yang bebas dari pengaruh iblis. Orang yang dirasuki setan di gereja seringkali bukan orang dengan manifestasi fisik yang mencolok, melainkan mereka yang memiliki sikap buruk seperti sombong, suka nyinyir, suka mengadu domba, atau memamerkan kekayaan dan jabatan (8:45-11:06, 17:38-17:49).
- Respons terhadap Firman Tuhan: Ketika firman Tuhan ditegaskan, orang yang kerasukan iblis cenderung merasa "panas" atau marah alih-alih bertobat. Pdt. Karyadi menasihati agar jemaat mawas diri dan segera bertobat saat ditegur oleh firman, bukan justru membenci hamba Tuhan yang menyampaikan pesan tersebut (14:06-14:55, 16:38-16:50).
- Kesimpulan: Fokus utama kekristenan bukanlah sekadar terkagum-kagum pada mukjizat atau khotbah yang hebat, melainkan memiliki hubungan pribadi yang nyata dengan Yesus, mentaati firman-Nya, dan membiarkan Roh Kudus memimpin hidup sehingga kita menjadi saksi yang benar (20:14-20:58, 26:11-27:01).
Tuesday, June 23, 2026
HIKMAT MENGGUNAKAN KARUNIA: UNTUK SAYA ATAU SESAMA? - 1 KORINTUS 14:15-20 - PDT KARYADI M
Berdasarkan khotbah Pdt. Karyadi M. dalam pembahasan 1 Korintus 14:15-20, menjadi dewasa dalam pemikiran memiliki beberapa makna penting:
- Memiliki Hikmat dan Akal Budi (28:44-28:56): Kedewasaan berarti tidak lagi bersikap egosentris seperti anak-anak. Orang dewasa menggunakan logika dan akal budi yang dikaruniakan Tuhan untuk mengambil keputusan, bukan hanya mencari kepuasan emosi atau pamer karunia pribadi (24:25-24:31).
- Fokus pada Pembangunan Sesama (24:31-24:54): Kedewasaan rohani diukur dari kerinduan untuk membangun orang lain (edifikasi). Seseorang yang dewasa akan memastikan bahwa tindakan atau karunia yang ia gunakan dapat dimengerti dan memberi manfaat bagi orang di sekitarnya, bukan justru menjadi batu sandungan atau kebingungan (17:21-17:50).
- Mampu Melihat Kebutuhan Orang Lain (28:47-28:50): Berbeda dengan anak-anak yang cenderung hanya memikirkan diri sendiri, orang yang dewasa secara pemikiran mampu melihat situasi, menempatkan diri, dan bertindak dengan cara yang tepat sesuai konteks (seperti memilih menggunakan bahasa yang dimengerti jemaat daripada bahasa roh yang tidak dipahami orang lain dalam ibadah raya) (26:26-26:30).
- Ketulusan yang Berpadu dengan Pengetahuan (27:54-28:00): Menjadi dewasa bukan berarti kehilangan ketulusan, tetapi menyeimbangkan antara sifat anak-anak yang murni/tidak jahat dengan hikmat dan pengetahuan yang matang (27:42-27:57).
Secara singkat, pesan utamanya adalah bahwa iman dan akal budi tidak untuk dipertentangkan, melainkan berjalan bersama untuk memuliakan Tuhan dalam komunitas yang sehat dan tertib (28:59-29:20).
4. SEMUA FIRMAN ALLAH ADALAH MURNI
SEMUA FIRMAN ALLAH ADALAH MURNI
Jika Firman Allah adalah kebenaran, sebagai konsekuensinya
Firman Allah itu dapat dipercaya dan dapat diandalkan, inilah yang membuat
penulis Amsal kemudian berkata bahwa Firman Allah adalah seperti perisai (Amsal
30:5).
Meskipun banyak orang memahami bahwa Firman Tuhan itu adalah
kebenaran dan dapat dipercayai, namun mereka tidak berarti hidup mengandalkan
Firman Allah. Ada kalanya seorang Kristen mau menaati Firman Tuhan, jika apa
yang dinyatakan dalamnya cocok dengan apa yang diinginkannya.
Alkitab sangatlah penting bagi kehidupan manusia. Manusia pun
akan jatuh dalam dosa jika mereka mengabaikan Firman Tuhan. Itulah sebabnya
dalam Amsal 30:5, Alkitab menegaskan bahwa Firman Allah itu adalah perisai.
Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi
orang-orang yang berlindung pada-Nya. Apakah fungsi dari perisai? Perisai
adalah alat yang digunakan orang-orang di zaman dulu, misalnya saja bangsa
Mesir, Kanaan, dan Israel, untuk melindungi diri mereka dari serangan lawan,
khususnya ketika mereka terlibat dalam sebuah peperangan.
Dalam PL, umat Allah sering diceritakan hadir dalam
peperangan, misalnya saja saat Bangsa Israel harus merebut tanah Kanaan (lihat
Kitab Yosua). Peperangan fisik mereka sebenarnya adalah gambaran dari
peperangan melawan kejahatan dan dosa. Dalam PB, kita pun dikatakan berhadapan
dengan peperangan, namun bukan lagi melawan manusia, namun melawan
pemerintah-pemerintah di udara atau kuasa-kuasa kejahatan yang berupaya untuk
melawan kerajaan Allah dan umat Tuhan.
Bagaimanakah seorang percaya dapat bertahan bahkan menang
dalam peperangan melawan kerajaan kegelapan? Kita perlu memperhatikan apa yang
Rasul Paulus ajarkan mengenai “perlengkapan senjata Allah.”
Efesus 6:10-18
10. Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam
kekuatan kuasa-Nya. 11. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya
kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12. karena perjuangan kita
bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah,
melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini,
melawan roh-roh jahat di udara. 13. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan
senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu
dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14. Jadi
berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15.
kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16. dalam
segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan
dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17. dan terimalah ketopong
keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18. dalam segala doa dan
permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam
doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.
SENIMENULISISIHATITUHAN
SENIMENULISISIHATITUHAN
Tuesday, June 16, 2026
Tuesday, June 9, 2026
3. MENGAPA BANYAK ORANG SAMPAI MELUPAKAN TUHAN
MENGAPA BANYAK ORANG SAMPAI MELUPAKAN TUHAN
Mengapa banyak orang yang sampai melupakan Tuhan dan hal-hal
rohani lainnya dan memilih untuk menghabiskan hidupnya untuk mencari dan
mengejar hal-hal yang ada dalam dunia ini?
Penulis Amsal bersaksi “Aku berlelah-lelah ya Allah, aku
berlelah-lelah sampai habis tenagaku.” Perkataan ini menyiratkan bahwa penulis
kitab Amsal dalam hidupnya ia telah bekerja keras, yang saking kerasnya ia
bekerja ia sampai berkata “sampai habis tenagaku.”
Namun, dalam segala jerih lelahnya, ia malah kehilangan apa
yang penting dan utama dalam hidup manusia, yaitu Tuhan. Itulah yang membuat
Dia berkata “aku ini lebih bodoh dari orang lain,” tidak kupelajari hikmat
sehingga ia tidak dapat mengenal “Yang Maha Kudus.”
Jika ia membandingkan dirinya dengan orang lain, penulis Amsal
merasa dirinya adalah orang yang terbodoh,” Ia tidak mengerti dan tidak
menyadari bahwa seluruh dunia ini dikendalikan, dipelihara dan dimiliki oleh
Tuhan.”
Ia dulu tidak pernah memikirkan mengenai adanya kuasa surga
yang ada di bumi dan tidak memikirkan mengenai siapakah yang mengendalikan
angin/alam hingga angin atau alam itu tidak menghancurkan manusia,
Ia juga tidak memikirkan mengenai siapakah yang telah
memeliharakan ikan di air yang menjadi sumber penghidupan manusia,
ia tidak memikirkan siapakah yang telah membatasi ujung bumi,
yang menjaga bumi tetap ada seperti sekarang, ia tidak memikirkan semuanya itu.
Penulis Amsal merasa itulah kebodohannya yang terbesar.
Kesadaran inilah yang membuat penulis kitab Amsal memberikan nasehat kepada
pembacanya untuk tidak seperti dia, untuk melihat apa yang penting dan utama
dalam hidup, apakah itu? FIRMAN ALLAH!
Seorang hamba Tuhan diundang ke sebuah persekutuan kaum pria.
Setelah menyampaikan Firman Tuhan, ada seorang bapak bertanya kepadanya:
“Mengapakah uang tidak boleh menjadi hal terpenting dalam hidup manusia,
bukankah manusia butuh uang, segala sesuatunya pun butuh uang?”
Sang hamba Tuhan berkata: “Manusia memang membutuhkan uang,
siapa di dunia ini yang tidak membutuhkan uang?” Namun, kita harus menyadari
bahwa ada yang
tidak bisa dibeli dengan uang, apakah itu? Kehidupan setelah
kematian, atau keselamatan hidup kita. Walaupun manusia butuh uang, namun uang
bukanlah satu-satunya bahkan bukan hal yang utama yang manusia harus cari.
Manusia bukan hanya butuh uang, namun manusia butuh Tuhan.”
Kebenaran seperti inilah yang juga disadari oleh penulis
Amsal, sehingga ia seolah-olah berkata “wahai manusia… ” Sadarlah ada yang
lebih berharga dari pada “apa yang ada dalam dunia ini” dan “apa yang dicari
manusia dalam dunia ini,” Apa yang jauh lebih berharga dari pada isi dunia ini?
Jawabannya adalah mengenal Tuhan.
Pengalaman yang sama juga membuat Rasul Paulus menyadari
pentingnya mengenal Tuhan. Ketika ia membandingkan segala kebanggaan dalam
dunia ini dengan pengenalan akan Allah dalam Kristus, maka ia menyebut semua
yang ada dalam dunia ini, semua yang dicari manusia dalam dunia ini seperti
sampah jika dibandingkan dengan Tuhan.
Sebuah perbandingkan yang sangat ekstrem dari Alkitab, nilai
dunia ini tidak sebanding dengan pengenalan akan Allah.
Kepada jemaat di kota Filipi, Rasul Paulus memberikan
kesaksian bagimana kehidupannya sebelum mengenal Tuhan dan setelah ada dalam
Tuhan.
“ … Jika ada orang lain
menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari ke delapan, dari bangsa
Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum
Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang
kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan
bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap
rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada
semuanya.
Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan
menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus .” Filipi 3:4-8.
SENIMENULISISIHATITUHAN
AJARAN TENTANG ROH KUDUS, Kisah RASUL 5:3-4
<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/s8skN87ioic?si=K1uG0ZVHlVGuWS3M" title="YouTube video player" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
Thursday, May 28, 2026
2. FIRMAN ALLAH DAPAT DIPERCAYAI
FIRMAN ALLAH DAPAT DIPERCAYAI
Keyakinan iman seseorang akan Firman Allah menentukan apakah
seseorang dapat mempercayai Alkitab ataukah tidak. Dengan demikian ada kaitan
antara iman seseorang dengan logika berpikir yang ia miliki saat membaca Alkitab.
Pada satu sisi, keyakinan iman seseorang membuatnya dapat melihat kehadiran
Allah di balik penulisan kitab suci, tetapi di sisi yang lain, logika berpikir
yang dipengaruhi oleh keyakinan iman seseorang akan membuat iman orang tersebut
makin bertumbuh.
Untuk dapat membaca Alkitab dengan benar, seseorang perlu
untuk mendengarkan bagaimana Alkitab menjelaskan mengenai dirinya sendiri. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran. 2 Timotius 3:16 Rasul Paulus
dalam 2 Timotius 3:16 berkata bahwa segala tulisan adalah diilhamkan Allah.
Apakah dalam Perjanjian Lama, kita menemukan klaim yang mirip? Penulis kitab
Amsal juga menegaskan hal yang sama tetapi dalam perkataan yang berbeda. Ia berkata bahwa semua Firman Allah adalah murni. Semua
firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung
pada-Nya. Amsal 30:5.
Ketika kitab Amsal dituliskan, pada waktu itu memang belum ada
kitab-kitab Perjanjian Baru, di zamannya setidaknya ada dua kelompok kitab yang
sudah lengkap yang diterima sebagai Firman Allah, yakni kitab Taurat dan Para
Nabi. Penulis kitab Amsal dipakai Tuhan untuk menegaskan bahwa semua firman
Allah adalah murni.
Yang menarik adalah sebelum ia bertemu dengan kebenaran Firman
Tuhan, penulis kitab Amsal adalah orang yang hidup jauh dari Tuhan. Ia
menceritakan mengenai pengalaman hidupnya dalam ayat 1b-4. 13 Perkataan Agur bin Yake dari Masa. Tutur kata orang itu:
Aku berlelah-lelah, ya Allah, aku berlelah-lelah, sampai habis tenagaku. Sebab
aku ini lebih bodoh dari pada orang lain, pengertian manusia tidak ada padaku.
Juga tidak kupelajari hikmat, sehingga tidak dapat kukenal Yang Mahakudus.
Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin
dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang
telah menetapkan segala ujung bumi? Siapakah namanya dan siapa nama anaknya?
Engkau tentu tahu! Amsal 30:1-4.
Banyak orang mengerti betul apa yang dikatakan oleh penulis Amsal, yakni, apa artinya bekerja keras sedemikian rupa sehingga kita merasa kehabisan tenaga. Meskipun penulis kitab Amsal sudah bekerja keras sedemikian rupa, ia mengalami apa yang terjadi dengan penulis kitab pengkhotbah. Setelah ia bekerja sedemikian keras, yang ia rasakan hanyalah kesia-siaan dan kekosongan. Itulah sebabnya saat ia melirik ke belakang, ke masa lalunya, seperti seseorang yang saat berkendaraan melihat ke spion mobilnya, ia kemudian menemukan bahwa ia telah melewatkan apa yang utama dan penting dalam hidupnya; apakah itu? Apakah yang dia lewatkan adalah kesempatan untuk senang-senang atau kesempatan untuk bersosialisasi atau waktu bersama keluarga? Ternyata bukan itu, yang terlewatkan dalam hidupnya adalah “TUHAN.”
Wednesday, May 27, 2026
Tuesday, May 26, 2026
ALKITAB TIDAK PERNAH SALAH
ALKITAB TIDAK PERNAH SALAH
Martin Luther menegaskan: “Alkitab tidak akan pernah salah …
[dan] Alkitab tidak dapat salah, yang pasti adalah Alkitab tidak dapat
bertentangan dalam dirinya sendiri; pertentangan dalam Alkitab hanya nampak
dalam mata orang-orang yang tidak berpengertian dan orang-orang munafik yang
keras hati/tidak mau bertobat.”
Apa yang Martin Luther katakan adalah benar, orang yang
sungguh-sungguh percaya Tuhan pasti tidak akan pernah berkata “Alkitab tidak
dapat dipercayai” atau berkata bahwa “Alkitab tidak benar,” sebab ia memahami
bahwa Alkitab bukanlah sekadar buku biasa yang ditulis oleh seorang manusia
tetapi Alkitab adalah Firman Allah. Sebagai Firman Allah, penulis sebenarnya
dari Alkitab adalah pribadi Allah sendiri yang berbicara melalui perantaraan
manusia.
Alkitab sendiri bersaksi bahwa Alkitab adalah benar dan dapat
dipercayai sebab di balik para penulis Alkitab ada Allah yang bekerja. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran. 2 Timotius 3:16. Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat
nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab
tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh
Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah. 2 Petrus 1:20-21.
Tidak ada bukti yang lebih kuat dapat meyakinkan kita bahwa
Alkitab adalah benar dan dapat dipercayai selain dari kesaksian Alkitab
sendiri. Klaim bahwa Alkitab adalah benar menjadi bukti penting dalam memahami
otoritas Alkitab ataupun peran Alkitab dalam kehidupan manusia di sepanjang
zaman.
Sebelum seseorang menafsirkan Alkitab, ada beberapa fondasi
teologi yang perlu diperhatikan dan hal-hal tersebut menjadi paradigma awal
bagi seseorang yang harus ada sebelum ia membaca dan menafsirkan kitab suci.
Kevin Vanhoozer dalam bukunya “Is There Meaning in the Text?” mengingatkan
bahwa masalah dalam penafsiran Alkitab bukan terletak pada metode yang sering
kali tidak sempurna tetapi pada diri dan keyakinan sang penafsir. Ada perbedaan
antara menafsir Alkitab dengan perspektif iman atau tanpa keyakinan iman.