Tulisan Firman dalam pencerahan yang sederhana untuk menghidupi hidup yang sederhana menjadi DASYAT BERSAMA TUHAN.
Monday, January 5, 2026
Saturday, January 3, 2026
Tuesday, December 30, 2025
Wednesday, November 19, 2025
JANGAN MENIKAHI SESEORANG, KECUALI ANDA SIAP MEMBERI MEREKA "KUASA" ATAS TUBUH ANDA SENDIRI
JANGAN
MENIKAHI SESEORANG, KECUALI ANDA SIAP MEMBERI MEREKA "KUASA" ATAS
TUBUH ANDA SENDIRI
1 Kor 7:4 “Isteri
tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suami. Demikian pula suami tidak
berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.”
'kekuasaan'
mengendalikan: 'Istri tidak berhak melakukan apa pun yang diinginkannya dengan
tubuhnya sendiri' 'Istri tidak dapat mengklaim tubuhnya sebagai miliknya'
'demikian pula' -
'Dalam ikatan perkawinan, kepemilikan terpisah atas orang tersebut berakhir.'
Sehubungan dengan hubungan seksual, keduanya berada pada level yang sama,
keduanya sama-sama kehilangan otoritas atau hak atas tubuh mereka... Semua
kemandirian yang semu dan individualistis dari pihak istri atau suami dilarang.
'Seseorang yang
berada dalam hubungan pernikahan tidak memiliki otoritas atas tubuhnya sendiri
seperti yang dimilikinya sebelum pernikahannya...kepuasan keinginan pribadinya
tidak lebih penting daripada keinginan Yesus!'
Hal-hal yang Perlu
Diperhatikan:
1. Jangan menikahi
seseorang, kecuali Anda siap memberi mereka "kuasa" atas tubuh Anda
sendiri. Ini menunjukkan bahwa pernikahan hanya untuk mereka yang cukup tidak
egois untuk menempatkan diri di tempat ketiga (di belakang Yesus dan pasangan mereka).
Seperti yang dikatakan seorang penulis, "Pernikahan adalah untuk yang
Dewasa".
2. Ungkapan
"satu daging" tidak berbicara tentang apa yang terjadi pada saat
seorang suami bercinta dengan istrinya. Karena pria dan wanita menjadi satu
daging dalam pernikahan, mereka memiliki hak untuk berkuasa secara seksual atas
satu sama lain (7:4).
Kejadian 2:24
tidak mengatakan: "Sebab itu laki-laki akan
meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya
akan mempersatukan tubuh mereka." Kej.
2:24 mengatakan: "Sebab itu laki-laki
akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga
keduanya tidak lagi menganggap diri mereka INDEPENDEN satu sama lain, melainkan
bahwa mereka bersama-sama menjadi satu kesatuan. Dan karena mereka tidak independen
satu sama lain, mereka memiliki kuasa atas satu sama lain secara seksual. Dan
tindakan seksual ini secara khusus ditetapkan oleh Tuhan untuk mengekspresikan,
tidak seperti yang lain, kedekatan hubungan mereka."
3. Ayat ini
menunjukkan betapa dangkal dan egoisnya beberapa pernikahan. Pernikahan
dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar pengaturan keuangan, lebih dari
sekadar cara bagi dua orang untuk memiliki rumah, lebih dari sekadar
persahabatan, lebih dari sekadar persahabatan biasa, lebih dari sekadar
pengaturan untuk mengasuh anak. Ini adalah hubungan di mana Anda sepenuhnya
menyerahkan diri Anda kepada orang lain. NAH,
ITULAH PERNIKAHAN! Segala sesuatu yang lain hanyalah 'main
rumah-rumahan'.
4. Ayat ini juga
mengungkapkan bahwa frasa "pernikahan karena kerelaan" bukanlah
ungkapan yang akurat. Mengingat kerja keras dan sikap tidak egois yang dituntut
dalam hubungan pernikahan (Efesus 5:22-33; 1 Ptr 3:7), pernikahan bukanlah
"kerelaan atau kemudahan!"
5. Mungkin ada
yang bertanya-tanya, apakah ayat ini mengajarkan bahwa seseorang boleh
berhubungan seksual dengan pasangannya kapan saja dan dengan cara apa pun yang
diinginkannya?
Sebagai tanggapan,
saya kutipkan kutipan berikut:
Saya tahu ada
buku-buku yang ditulis oleh para pemimpin Kristen yang mengatakan bahwa pada
dasarnya apa pun legal di kamar tidur, tetapi saya tidak setuju. Inti dari
cinta adalah keputusan untuk menghormati seseorang—menganggapnya sangat
berharga. Memaksa istri saya melanggar hati nuraninya demi memuaskan hasrat
seksual saya sepenuhnya salah dan merupakan undangan untuk masalah seksual.
Meminta pasangan untuk melakukan tindakan seksual yang salah atau menjijikkan
baginya berarti menunjukkan setidaknya sedikit ketidakpekaan atau bahkan
kurangnya cinta.
PADA SAAT YANG SAMA, KITA PERLU
MEMPERINGATKAN PASANGAN YANG MUNGKIN TERGODA UNTUK MENGGOLONGKAN SEGALA BENTUK
AKTIVITAS SEKSUAL SEBAGAI PELANGGARAN HATI NURANI.
Rhema,
Tgl.19.11.25
Wednesday, November 12, 2025
BAIKLAH SETIAP LAKI-LAKI MEMPUNYAI ISTRINYA SENDIRI, DAN BAIKLAH SETIAP PEREMPUAN MEMPUNYAI SUAMINYA SENDIRI
BAIKLAH SETIAP LAKI-LAKI MEMPUNYAI ISTRINYA SENDIRI,
DAN BAIKLAH SETIAP PEREMPUAN MEMPUNYAI SUAMINYA SENDIRI.
1 KORINTUS 7:2. 'tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. '
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan:
1.
Beberapa orang menuduh Paulus memiliki pandangan yang sangat rendah tentang
pernikahan. "Tuduhan yang dilayangkan kepada Paulus bahwa ia menempatkan
pernikahan pada tingkat yang sangat rendah seolah-olah hanya pilihan yang lebih
baik dari dua kejahatan," tidak berdasar. Sebab dalam Efesus 5:22-23,
Paulus yang sama menulis tentang aspek-aspek pernikahan yang tinggi dan kudus,
sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun."
2.
Meskipun hal di atas bukan satu-satunya alasan untuk menikah, namun tetap saja
merupakan alasan yang sah di antara banyak alasan lainnya.
3. Paulus
tidak menutup mata. Ia adalah pria yang berpikiran spiritual dan sangat peka
terhadap realitas. Saya pikir McGuiggan ada benarnya di sini, 'Selibat itu
baik, tetapi mereka yang diperlengkapi untuk selibat tidak akan melakukan
percabulan dan percabulan sedang terjadi (2 Kor 12:21). Jadi, selibat verbal
mungkin lebih umum daripada yang sebenarnya. Jangan mengaku selibat jika Anda
tidak bisa mengendalikan diri secara seksual, katanya. Ada cara terhormat untuk
memuaskan hasrat seksual—MENIKAHLAH! Selibat itu terhormat, begitu pula
pernikahan. Dan pernikahan tanpa percabulan selalu lebih baik daripada
"selibat" dengan percabulan!'
Dalam komentarnya Mike Willis menyampaikan sesuatu kepada para
orangtua mengenai hal ini, 'Kadang-kadang hubungan seksual pranikah terjadi...
karena para orangtua tidak mengizinkan anak-anak mereka menikah sesuai
keinginan mereka... jauh lebih baik bagi sebuah keluarga untuk membantu secara
finansial pasangan muda yang sudah menikah selama beberapa tahun di sekolah
daripada melihat jiwa mereka terhilang karena terlibat dalam percabulan.'
'Hendaklah setiap laki-laki memiliki istrinya sendiri' - jelas
merujuk pada monogami. 'Haruslah pernikahan Kristen, bukan libertinisme kafir
dan poligami Yahudi.' (Yunani Kel. PB hlm. 822) Yesus mengajarkan hal yang
sama. (Matius 19:5)
"Biarlah setiap perempuan memiliki suaminya sendiri"
- tidak ada standar ganda di sini. Perempuan hanya boleh memiliki satu suami,
dan suami hanya boleh memiliki satu istri.
Hal yang Perlu Dicatat:
Ada pelajaran berharga dalam ayat-ayat ini untuk menyadari
keterbatasan diri. Di sini, Paulus mengingatkan kita untuk tidak mencoba
menjalani kehidupan yang tidak cocok untuk kita. 'Jangan mencoba menjalani
hidup selibat, jika kamu tidak cocok untuk itu.' Nah, perhatikan apa yang tidak
Paulus katakan. Ia tidak menganjurkan hidup bersama (seperti percabulan).
Pilihannya adalah SELIBAT atau PERNIKAHAN, tanpa jalan tengah seksual yang aman.
Ini pasti mengungkapkan sesuatu tentang motif di balik hidup bersama.
Orang-orang di dalamnya tidak menginginkan selibat, namun mereka juga tidak
menginginkan komitmen pernikahan. KEEGOISAN
pasti menjadi motif untuk menginginkan hubungan seksual, tanpa komitmen yang
terlibat dalam hubungan pernikahan. Hidup bersama mengirimkan pesan yang aneh,
dua orang yang mengaku "saling mencintai" (alasan yang diberikan
untuk melegitimasi hubungan), namun mereka tidak "saling mencintai"
sampai-sampai ingin berkomitmen satu sama lain seumur hidup. Itu adalah
"cinta yang tak berujung" yang diakui. Tapi mereka tidak bersikap
seolah-olah hubungan mereka akan berakhir. 'Aku mencintaimu dan tertarik secara
seksual padamu... tapi aku tidak yakin aku ingin kau menjadi satu-satunya
pasangan seksualku seumur hidupku... aku ingin tetap membuka pilihanku jika ada
yang lebih baik.'
RHEMA, 12.11.25
Monday, November 10, 2025
KEPRIBADIAN PAULUS - RHEMA HARI INI
Kepribadian Paulus
Dari Kisah Para Rasul dan dari surat-surat Paulus
juga mungkin mendapat gambaran jelas mengenai kepribadian dan perangai Sang
Rasul.
Paulus adalah seorang yang semangatnya berapi-api
dan yang dalam mengejar cita- citanya tidak tahu lelah atau menghitung
jerih-payahnya. Pada pokoknya cita-cita Paulus ialah cita-cita keagamaan.
Satu-satunya yang menjadi pusat perhatiannya ialah Allah. Dalam mengabdi Allah
sebagai hamba setiawan ia menolak segenap kompromis dalam bentuk manapun.
Itulah sebabnya maka mula-mula Paulus mengejar mereka yang dianggapnya sebagai
bida'ah dan musuh Allah 1 Tim 1:13; bdk Kisah 24:5, 14, tetapi
kemudian mewartakan Kristus, setelah berkat wahyu mengerti bahwa Dialah
satu-satunya penyelamatan. Semangat yang tak bersyarat itu terungkap dalam
kehidupan yang terdiri atas penyangkalan diri yang mutlak dan pengabdian kepada
Dia yang dikasihi Paulus. Kerja keras dan lelah, haus, penderitaan, kemiskinan
dan bahaya maut, 1
Kor 4:9-13; 2 Kor 4:8 dst; 6:4-10; 11:23-27, tidak
dipedulikan sama sekali mana kala Paulus menunaikan tugas yang dianggapnya
sebagai tanggung jawabnya 1 Kor 9:16 dst.
Tidak ada sesuatupun dari semuanya itu yang mampu memisahkan Paulus dari kasih
Allah dan Kristus, Roma 8:35-39. Sebaliknya, semuanya itu
dianggapnya barang berharga oleh karena menyerupai dirinya dengan Gurunya yang
bersengsara dan tersalib, 2 Kor 4:10 dst; Filipi 3:10 dst.
Kesadaran akan panggilannya yang tunggal membuat Paulus memiliki gairah akan
yang luhur-luhur dan besar-besar. Kalau ia merasa dirinya bertanggung jawab
akan semua jemaat, 2 Kor 11:28; bdk Kolose 1:24, dan
berkata bahwa bekerja lebih dari pada yang lain-lain, 1Kor 15:10; bdk 2 Kor 11:5, dan
mengajak kaum beriman untuk mencontohnya, 2 Tes 3:7, maka
keterangan semacam itu bukanlah kesombongan, melainkan kebanggaan orang suci
yang rendah hati. Sebab Paulus juga mengakui dirinya sebagai yang paling hina
di antara sekalian orang Kudus, 1 Kor 15:9; Efesus 3:8, karena
telah menganiaya jemaat Allah; karya-karya besar yang dilaksanakannya dianggap
berasal dari Tuhan yang berkarya di dalam dirinya, 1 Kor 15:10; 2 Kor 4:7; Filipi 4:13; Kolose 1:29; Efesus 3:7.
Semangat hatinya yang halus nampak dalam sikap
Paulus terhadap kaum beriman. Ia mempercayai sungguh-sungguh orang-orang Filipo
yang masuk Kristen, Filipi 1:7 dst; 4:10-20; ia
menaruh perasaan mendalam terhadap jemaat di Efesus, Kisah 20:17-38; hatinya
memanas, kalau orang-orang beriman di Galatia membiarkan dirinya dibujuk untuk
meninggalkan kepercayaan sejati, Galatia 1:6; 3:1-3, dan ia
sedih terkejut karena ketidak-tetapan hati yang sombong pada orang-orang di
Korintus, 2
Kor 12:11-13:10.
Untuk menetapkan yang lincah-lincah Paulus tahu bagaimana bersikap ironi, 1 Kor 4:8; 2 Kor 11:7; 12:13, dan
bahkan melontarkan teguran tegas, Galatia 3:1-3; 4:11; 1 Kor 3:1-3; 5:1-2; 6:5;
11:17-22; 2 Kor 11:3 dst.
Tetapi selalu hanya demi kebaikan kaum beriman, 2 Kor 7:8-13. Dan
segera Paulus memperlunak tegurannya dengan kehalusan hati yang penuh kasih
sampai mengharukan hati, 2 Kor 11:1-2; 12:14 dst :
Bukankah hanya Pauluslah bapa mereka, 1 Kor 4:14 dst; 2 Kor 6:13; bdk 1 Tes 2:11; Filemon 10, bahkan
ibu mereka, 1
Tes 2:7; Galatia 4:19? Maka
segera pulih kembali hubungan-hubungan baik seperti dahulu, Galatia 4:12-20; 2 Kor 7:11-13.
Sesungguhnya Paulus tidak mau pertama-tama menegur
kaum beriman, tetapi para lawan yang berusaha membujuk dan menyesatkan mereka:
orang-orang Yahudi yang di mana-mana melawan dan menghalangi Paulus, Kisah 13:45, 50; 14:2, 19;
17:5, 13; 18:6; 19:9; 21:27, ataupun orang-orang Kristen ke-Yahudian yang
ingin membebankan kuk hukum Taurat pada mereka yang oleh Paulus direbut bagi
Kristus, Galatia
1:7; 2:4; 6:12 dst.
Terhadap golongan-golongan itu Paulus tidak kenal ampun, 1 Tes 2:15 dst; Galatia 5:12; Filipi 3:2. Gairah
mereka yang sombong dan "kedagingan" dihadapi Paulus dengan daya
rohani sejati yang menyatakan diri melalui kepribadiannya yang lemah, 2 Kor 10:1-12:2, dan
dengan sikap jujurnya yang membuktikan Paulus tidak mencari keuntungan
sendiri, Kisah
18:3.
Ada sementara orang yang berkata bahwa para lawan Paulus ialah para rasul di
Yerusalem. Tetapi pendapat itu tidak dapat dibuktikan. Terlebih-lebih lawan
Paulus itu Yalah orang-orang Yahudi yang masuk Kristen dan ingin memaksakan
adat-kebiasaan sendiri kepada orang-orang lain. Mereka menyalah-gunakan nama
Petrus, 1
Kor 1:12,
dan Yakobus, Galatia
2:12 untuk
menurunkan kweibawaan Paulus. Sebaliknya, Paulus sendiri selalu menghormati
wewenang para rasul sejati, Galatia 1:18; 2:2, walaupun
mempertahankan bahwa sebagai saksi Kristus setra dengan merek, Galatia 1:11 dst; 1 Kor 9:1; 15:8-11. Kalaupun
terjadi bahwa sehubungan dengan perkara tertentu Paulus menentang Petrus, Galatia 2:11-14, namun
Paulus selalu menyatakan dirinya orang yang suka berdamai, Kisah 21:18-26. Dengan
seksama ia mengorganisasi pengumpulan dana untuk orang-orang Kristen yang
miskin di Yerusalem, Galatia 2:10, karena ia beranggapan ini
jaminan paling baik bagi persatuan antara orang-orang Kristen bekas kafir
dengan Jemaat Induk di Yerusalem, 2 Kor 8:14; 9:12-13; Roma 15:26 dst.
Saturday, November 8, 2025
KEHIDUPAN PAULUS - RHEMA HARI INI
Dengan menggunakan Kisah Para Rasul dan surat-surat
Paulus, maka tokoh ini lebih kita kenal dari pada tokoh-tokoh lain dalam
Perjanjian Baru. Kedua sumber, yang masing-masing berdiri sendiri ini saling
menguatkan dan melengkapi, meskipun ada kelainan-kelainan dalam soal-soal
kecil. Kita malahan dapat menyusun suatu kronologi riwayat hidup Paulus secara
lebih kurang teliti, karena bertepatannya beberapa peristiwa dalam riwayat
hidup Paulus dengan kejadian-kejadian yang kita ketahui menurut ilmu sejarah, seperti
waktunya Galio menjabat prokonsul di Korintus, Kisah 18:12, dan tahun
Festus menggantikan Feliks, Kisas 24:27-25:1, sebagai
wali negeri di Palestina.
Paulus dilahirkan di Tarsus di Kilikia, Kisah 9:11; 21:39; 22:3, kira-kira
tahun 10 Mas. dari keluarga Yahudi suku Benyamin, Roma 11:1; Filipi 3:5 dan
yang telah menjadi warga negara Roma, Kisah 16:37 dst; 22:25-28; 23:27. Semasa
mudanya Paulus dididik di Yerusalem oleh Gamaliel yang memberinya pengajaran
mendalam tentang agama Yahudi sesuai dengan ajaran mazhad agama Kristen yang
baru muncul, Kisah 22:4 dst; 26:9-12; Galatia 1:13; Filipi 3:6, dan
berurusan dengan pembunuhan atas diri Stefanus, Kisah 7:58; 22:20; 26:10.
Tetapi kira-kira tahun 34 seluruh hidup Paulus yang
sedang di perjalanan ke kota Damsyik dirubah oleh penampakan Yesus yang telah
bangkit dari alam maut. Tuhan yang bangkit menyatakan kepadanya benarnya agama
Kristen dan bahwa tugasnya yang khas ialah mewartakan Injil kepada orang- orang
bukan Yahudi, Kisah 9:3-16 dsj; Galatia 1:12, 15 dst; Efesus 3:2. Sejak
saat itu Paulus merelakan hidupnya untuk mengabdi Kristus, yang secara pribadi
telah "menangkapnya" untuk dijadikan pengikutNya, Filipi 3:12. Sesudah
tinggal beberapa lamanya di Arabia, Paulus kembali ke Damsyik, Galatia 1:17, dan mulai
mewartakan Kristus di sana, Kisah 9:20.
Sesudah sebentar mengunjungi Yerusalem, Galatia 1:18; Kisah 9:26-29, maka
dalam tahun 39 Paulus pergi ke Siria dan Kilikia, Galatia 1:21; Kisah 9:30, sampai
Barnabas mengajaknya kembali ke Antiokhia, di mana mereka mengajar
bersama, Kisah 11:25 dst
dan lihat 9:27. Dalam
perjalanannya yang pertama (th 45-49) ke Siprus, Pamfilia, Pisidia dan
Likaonia, Kisah 13-14, Saulus
mulai menggunakan nama Yunani-Latinnya Paulus untuk mengganti nama Yahudinya,
yakni Saul, Kisah 13:9. Karena
berkarya dengan lebih baik, maka Paulus menyisihkan Barnabas, Kisah 14:12.
Dalam tahun 49, jadi empat belas tahun sudah
bertobat, Galatia 2:1, Paulus
naik ke Yerusalem untuk ikut serta dalam "Konsili Para Rasul".
Sebagian karena pengaruhnya Konsili itu menyetujui bahwa hukum Yahudi tidak
mengikat orang-orang bukan Yahudi yang masuk Kristen, Kisah 15; Galatia 2:3-6. Tugas
Paulus di antara orang-orang bukan Yahudi juga secara resmi diakui, Galatia 2:7-9. Kemudian
ia mengadakan perjalanan-perjalanan lagi. Perjalanan kedua (Kisah 15:36-18:22) dan
perjalanan ketiga (Kisah 18:23 - Kisah 21-17) masing-masing berlangsung dalam tahun 50-52 dan 55-58. Sehubungan dengan
surat-surat Paulus perjalanan-perjalanan itu akan kita bicarakan lagi, oleh
karena surat-suratnya itu ditulisnya justru selama di perjalanan-perjalanan
itu.
Tahun 58 ditahan di Yerusalem, Kisah 21:27-23:22 dan
dimasukkan ke dalam penjara sampai th 60, Kisah 23:23-26. Dalam
musim semi th 60 wali negeri Festus mengirimkannya ke Roma dengan pengawalan
ketat, Kisah 27:1-28:16. Sesudah
di Roma di tahan dua tahun (th 61-63) Paulus dibebaskan karena tidak terbukti
salah. Kemudian ia mungkin pergi ke negeri Spanyol, seperti yang
direncanakannya, Roma 15:24, 28, tetapi
surat-surat Pastoral (Timotius, Titus) mengandaikan bahwa Paulus masih
mengadakan perjalanan-perjalanan ke Timur. Penahanan Paulus yang kedua di Roma
berakhir dengan kemartiran, sebagaimana diberitakan oleh tradisi yang paling
tua; ini kiranya terjadi dalam th 67.
RHEMA. 08.11.25
Tuesday, October 28, 2025
DIKUDUSKAN DALAM KRISTUS YESUS
DIKUDUSKAN DALAM KRISTUS YESUS
Inilah individu-individu yang membentuk Gereja. Gereja terdiri
dari 'orang-orang yang dikuduskan', yaitu orang-orang yang telah bersentuhan
dengan darah Kristus. (Ibr_10:29; Kis_20:28) Gereja terdiri dari mereka yang
'di dalam Kristus Yesus', yang menyiratkan bahwa masuk ke dalam Gereja Allah
melibatkan iman dan baptisan. (Gal_3:26-27; Rm_6:3) Hal ini sesuai dengan
Kis_2:38; Kis_2:41; Kis_2:47.
'dipanggil untuk menjadi orang
kudus' - 'Kekudusan bukanlah sesuatu
yang dicapai seseorang bertahun-tahun setelah ia meninggal; kekudusan adalah
sesuatu yang dimiliki setiap orang Kristen. Kekudusan bukanlah sesuatu yang
dicapai seseorang karena moralnya yang unggul, meskipun orang kudus harus
menunjukkan kemurnian moral; kekudusan dianugerahkan kepada kita oleh Allah
atas dasar Kristus yang telah menghapus dosa-dosa kita.'
'Orang-orang Kudus' - 'Kata yang digunakan adalah
"hagios"..kata tersebut...menggambarkan sesuatu atau seseorang yang
telah dikhususkan untuk dimiliki dan melayani Allah..Jika seseorang telah
ditetapkan sebagai milik khusus Allah, ia harus menunjukkan dirinya layak dalam
hidup dan karakter untuk pelayanan itu. Itulah sebabnya "hagios"
berarti "kudus". Namun, gagasan dasar dari kata tersebut adalah
pemisahan...Ketika Paulus menyebut orang Kristen "hagios" (orang-orang
kudus), ia memaksudkan bahwa orang Kristen adalah manusia yang berbeda dari
manusia lain KARENA ia secara khusus menjadi milik Allah dan untuk melayani
Allah.'
'Referensi yang berulang-ulang kepada kesucian mengingatkan
mereka kepada panggilan mereka; praktik yang rendah menuntut penegasan kembali
cita-cita yang tinggi.'
Pengudusan bukanlah proses yang bertentangan dengan keinginan
kita. Jemaat Korintus memang dikuduskan (6:11), tetapi mereka masih perlu
banyak perbaikan. Darah Kristus memisahkan kita dari dosa-dosa masa lalu kita,
tetapi kita harus terus bekerja sama dalam memisahkan diri dari dosa masa kini
dan masa depan. (2 Kor 7:1; Ibr 12:14)
Beberapa orang Kristen gagal menyadari bahwa dipisahkan untuk
melayani Tuhan membawa kewajiban besar untuk hidup seperti orang yang telah
dibebaskan dari belenggu dosa. (Roma 12:1-2; 1 Pet 2:9-10) Dan Tuhan memandang
rendah orang-orang yang tidak menghargai pembebasan tersebut. (2 Pet 2:20-22;
Yud 1:5)