Thursday, August 30, 2018

Matius 22:34-40, Hukum yang Terutama

indram642.blogspot.co.id

Matius 22:34-40, Hukum yang Terutama
(Markus 12:28-34; Lukas 10:25-28)
34   Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka 
35   dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: 
36   “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” 
37Ulangan 6:5 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 
38   Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 
39Imamat 19:18 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 
40   Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

The Scribes: Which Is the First Commandment of All?
34Mark 12:28–31; Luke 10:25–37But when the Pharisees heard that He had silenced the Sadducees, they gathered together. 
35  Then one of them, Luke 7:30; 10:25; 11:45, 46, 52; 14:3; Titus 3:13a lawyer, asked Him a question, testing Him, and saying, 
36  “Teacher, which is the great commandment in the law?”
37  Jesus said to him, Deut. 6:5; 10:12; 30:6“‘You shall love the Lord your God with all your heart, with all your soul, and with all your mind.’ 
38  This is the first and great commandment. 
39  And the second is like it: Lev. 19:18; Matt. 19:19; Mark 12:31; Luke 10:27; (Rom. 13:9; Gal. 5:14; James 2:8)‘You shall love your neighbor as yourself.’ 
40(Matt. 7:12; Rom. 13:10; 1 Tim. 1:5)On these two commandments hang all the Law and the Prophets.”

Dalam Injil Matius pertanyaan ini tampak merupakan serangan balik dari orang Farisi, tetapi di dalam Injil Markus suasananya berbeda. Ketika Markus mengisahkannya. Markus 12:28-34, Ahli Taurat itu tidak bertanya kepada Yesus untuk menjebak-Nya.

Ia bertanya dengan rasa syukur bahwa Yesus telah membantah orang SAduki dan ia bertanya untuk memungkinkan Yesus memperlihatkan betapa baik Ia dapat menjawab.

Dan perikop ini berakhir dengan keadaan di mana hubungan si ahli Taurat dan Yesus begitu dekat satu sama lain.

a.  Seharusnya orang-orang Farisi senang karena Yesus bisa mengalahkan orang Saduki, dan dengan demikian memperta­hankan kebenaran. Tetapi ternyata tidak. Kebencian mereka kepada Yesus menyebabkan mereka tak senang meli­hat kebenaran menang

Pikirkan tentang seorang pendeta / pengkhot­bah yang tidak saudara senangi (pribadinya, bukan ajarannya) Kalau ternyata orang itu bisa sukses dalam mengadakan suatu KKR,Pelayanannya, dll bagaimana perasaan saudara?

b. Ahli Taurat ini juga adalah orang Farisi (kebanyakan ahli Taurat adalah orang Farisi, tetapi tidak semua orang Farisi adalah ahli Taurat).

c. Kata ‘mencobai’ dalam bahasa Yunaninya bisa mempunyai arti yang negatif, seperti dalam ayat 18. Tetapi bisa juga mempunyai arti yang positif sehingga harus diterjemahkan ‘menguji’.

Di sini  tidak jelas apakah ahli Taurat itu mencobai (untuk menjatuhkan), atau menguji.

Dari ayat 35 diatas jelas ahli Taurat ingin mencobai Tuhan Yesus dengan menanyakan tentang hukum manakah yang terutama, yang seharusnya dia sebagai ahli Taurat pun pasti tahu, lihat di Markus 12:32-33.

Dan Yesus menjawab nya. (lihat, Matius 22:37-40) dia menyatakan Hukum yang terutama dari 10 Hukum Taurat adalah KASIH.

DEKALOG. (Yunani: Deka = 10, logos = sabda). Dekalog menjadi sebutan yang lazim dipakai untuk apa yang diungkapkan dalam SEPULUH PERINTAH seperti yang termaktub dalam Keluaran 20:2-17; Ulangan 5:7-21.

Hukum itu diberikan Allah kepada Musa pada dua loh batu (Keluaran 31:18), setiap loh berisi seluruh sepuluh perintah, sesuai dengan kebiasaan yang lazim, bahwa setiap perjanjian memiliki dua salinan. Namun, dalam kemarahan Musa telah membantingnya, ketika ia melihat umat Israel menyerahkan diri pada penyembahan berhala selama ia tidak ada (Keluaran 32:28). Hukum-hukum itu ditulis ulang (Keluaran 34:28) dan disimpan di dalam Tabut Allah (1 Raja 8:9).

Hukum-hukum dasar ini ditambah dengan banyak sekali rincian selama bertahun-tahun, namun Dekalog tetap merupakan ringkasan yang memudahkan untuk mengingat dan untuk resitasi umum serta sangat fundamental bagi kesatuan bangsa Israel.

Dekalog yang terdiri dari sepuluh firman tersebut adalah butir-butir hukum Tuhan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Seluruhnya merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Pelanggaran terhadap salah satu butir hukum tersebut berarti melanggar keseluruhan dari hukum tersebut. Yakobus 2:10. Dalam menerima butir-butir dekalog hendaknya kita tidak tergoda untuk mengubah susunannya atau menyatukan butir-butirnya. Namun jika ditinjau dari obyeknya, dekalo dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

     1.     Pertama terdiri dari hukum kesatu sampai keempat. Bagian ini merupakan hukum-hukum yang mengatur hubungan umat dengan Allah.
     2.    Kedua terdiri dari hukum kelima sampai kesepuluh. Bagian ini merupakan hukum-hukum yang mengatur hubungan antar sesama.

Pembagian ini janganlah dimengerti sebagai pembagian yang mutlak sebab hukum kesatu sampai keempat bukan hanya semata-mata mengatur hubungan antara Tuhan dan umat-Nya, tetapi berkaitan juga dengan hubungan antar umat itu sendiri.

Ketaatan kepada hukum kesatu sampai ketiga sangat berpengaruh terhadap sikap hidup seseorang terhadap sesamanya. Hukum keempat mengenai hari Sabat juga berkaitan dengan sikap para tuan terhadap budaknya. Sebab pada hari Sabat, umat bukan saja diwajibkan bukan hanya bersekutu dengan Tuhan, tetapi juga memperlakukan budak-budaknya secara manusiawi.
Sebaliknya, jika seseorang tidak memperdulikan hukum kelima sampai kesepuluh, maka secara tidak langsung ia akan merusak hubungannya dengan Allah yang memiliki hukum tersebut.

Demikianlah penjelasan Tuhan Yesus tentang hukum Taurat, Yaitu kasih Kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia.

Dengan contoh sederhana sebagai berikut :
Saat seorang ibu melarang anaknya, jangan lakukan ini, jangan lakukan itu, tanpa memberikan penjelasan, maka anaknya berpikir bahwa ibunya sedang mengekang kebebasannya. Dia tidak mengerti bahwa ibunya melarang dia, karena ibunya mengasihi dia.

Ketika seorang dokter membatasi konsumsi pasiennya, maka pasiennya merasa dipersulit dan dianiaya, padahal dokter itu membatasi karena mengasihi pasien itu dan tidak ingin dia celaka. Sampai suatu hari, dokter itu berkata pada suster “mulai besok, dia boleh makan apa saja yang dia mau”. Itu bukan tanda pasien itu mendapat kebebasan sejati, itu tanda bahwa dia sudah tidak ada harapan lagi.

Orang Kristen taat pada Tuhan, bukan karena dia sudah berada di ambang kematian, melainkan karena dia ingin hidupnya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kalau seorang pria berkata kepada pacarnya, aku mencintaimu, mari kita menikmati hubungan seks, padahal mereka belum menikah, maka perlu segera mengingat bahwa cinta yang sejati menikmati kebenaran bukan kesalahan.

Mengapa kita menghormati orang tua? Karena kasih. Mengapa di Sepuluh Hukum tertulis: jangan membunuh, jangan berzinah? Karena mengasihi sesama, maka menghormatinya, memikirkan kebaikannya. Cintailah sesama dengan motivasi kasih yang suci. Jangan pernah ada pikiran jahat dalam pikiran kita terhadap orang lain. Kalau orang tidak menyukaimu, bersalah padamu, doakan dia dan bukan membalasnya dengan perlakuan yang sama. Jangan engkau terjerat tipuan Iblis.

Kita harus melakukan apapun yang diperkenan Allah, dan kita harus bertanggung jawab atas apapun yang kita lakukan di hadapan Allah. Kita tidak bisa berkata bahwa kita sedang hidup di dalam zaman anugerah, sehingga kita boleh berbuat apa saja sekehendak hati kita.

The Greatest Commandment
(Deuteronomy 6:1-19; Mark 12:28-34)
34 Οἱ  δὲ  Φαρισαῖοι  ἀκούσαντες  ὅτι  ἐφίμωσεν  τοὺς  Σαδδουκαίους,  συνήχθησαν  ἐπὶ  τὸ  αὐτό,
35 καὶ  ἐπηρώτησεν  εἷς  ἐξ  αὐτῶν  νομικὸς  πειράζων  αὐτόν 
36 Διδάσκαλε,  ποία  ἐντολὴ  μεγάλη  ἐν  τῷ  νόμῳ; 
37 ὁ  δὲ  ἔφη  αὐτῷ  Ἀγαπήσεις  κύριον  τὸν  Θεόν  σου  ἐν  ὅλῃ  τῇ  καρδίᾳ  σου  καὶ  ἐν  ὅλῃ  τῇ  ψυχῇ  σου  καὶ  ἐν  ὅλῃ  τῇ  διανοίᾳ  σου. 
38 αὕτη  ἐστὶν    μεγάλη  καὶ  πρώτη  ἐντολή. 
39 δευτέρα  ‹δὲ›  ὁμοία  αὐτῇ  Ἀγαπήσεις  τὸν  πλησίον  σου  ὡς  σεαυτόν. 
40 ἐν  ταύταις  ταῖς  δυσὶν  ἐντολαῖς  ὅλος    νόμος  κρέμαται  καὶ  οἱ  προφῆται.

34 oi  de  pharisaioi  akousantes  oti  ephimōsen  tous  saddoukaious  sunēchthēsan  epi  to  auto, 
35 kai  epērōtēsen  eis  ex  autōn  nomikos  peirazōn  auton· 
36 didaskale,  poia  entolē  megalē  en    nomō; 
37 o  de  ephē  autō·  agapēseis  kurion  ton  theon  sou  en  olē  kardia  sou  kai  en  olē    psuchē  sou  kai  en  olē    dianoia  sou· 
38 autē  estin  ē  megalē  kai  prōtē  entolē. 
39 deutera  omoia  autē·  agapēseis  ton  plēsion  sou  ōs  seauton. 
40 en  tautais  tais  dusin  entolais  olos  o  nomos  krematai  kai  oi  prophētai.

Monday, August 27, 2018

ALKITAB ADALAH SUMBER

indram642.blogspot.co.id

ALKITAB ADALAH SUMBER

Tidak ada satu negara yang tidak mempunyai penjara, pengadilan, rumah sakit, sekolah, dan pekuburan. Dua di antaranya: pengadilan dan penjara berkaitan dengan tingkah laku manusia. Standar hukum dan penghukuman adalah etika.

Tetapi apa standar etika dunia? Ketika seorang berkata, “saya kira, ini tidak benar,” yang lain menjawab, “saya kira, benar.” Inilah penilaian subjektif. Dan Subjektivisme akan melahirkan Relativisme.

Karena subjektivitas tiap-tiap orang bisa berbeda dan masing-masing mengklaim dirinya adalah otoritas, maka timbullah relativisme. Jadi, Relativisme didasarkan pada subjektivitas, dan subjektivitas didasarkan pada kebebasan pribadi yang sudah jatuh di dalam dosa.

Hasilnya: tidak ada hukum suatu negara persis sama dengan hukum di negara lain. Orang Kristen yang ada di tahap ini mengetahui dengan jelas, mengapa dia mempelajari firman, membaca Kitab Suci, bukan berlomba membanggakan diri, melainkan rindu untuk mengerti :

-          Intinya,
-          Sifatnya,
-          Kualitasnya,
-          Perbedaannya,
-          Keunikannya,
-          Fungsinya,

Karena Alkitab adalah sumber yang amat berbeda dengan buku-buku lain.

Kalau begitu READ YOUR BIBLE.

AMSAL 10:1


Saturday, August 25, 2018

HUKUM DARI ATAS , HUKUM DARI BAWAH, AKIBATNYA ? thinks ?

indram642.blogspot.co.id

HUKUM DARI ATAS , HUKUM DARI BAWAH, AKIBATNYA ? thinks ?

Hukum di dunia dibuat dari bawah, di mana orang berkuasa memakai hukum untuk menindas yang lemah. Sampai suatu saat, yang lemah tidak tahan, bangkit memberontak, menghukum orang berkuasa.

Itulah yang dialami Louis XVI dan isterinya; Mary Antoinette, yang cantik, dari kecil di istana Vienna yang mewah. Mereka tinggal di istana Versailles yang dibangun oleh Louis XIV, kakek Louis XVI, menggunakan 40% dari penerimaan
pajak.

Di sana Louis ke-16 membangun opera house yang berkapasitas 365 tempat duduk, berhiaskan emas untuk isteri tercinta. Mary Antoinette tak pernah hidup susah, hanya tahu mengeruk pajak dari rakyat agar bisa hidup lebih dan lebih mewah.

Suatu kali ketika dia minta menaikkan pajak lagi, seorang pejabat mengingatkan, “Tolong jangan naikkan pajak lagi. Rakyat sudah terlalu miskin, tak punya roti.

”Jangan katakan itu padaku. Kalau mereka tak punya roti, ya makan saja kue taart,” karena di meja makannya selalu tersedia berbagai makanan, kalau tak ada roti, bisa memilih makanan lain.

Saat kalimat itu sampai ke telinga rakyat, mereka membenci dia sampai ke tulang sumsum. Maka, pada tahun 1789, mereka ditangkap dan dipenjarakan, dan pada tahun 1793, mereka dibawa ke Place of Concorde, yang dijuluki tempai kelahiran demokrasi, di-guillotine.

Dan sejak itu, di Perancis tak ada raja, rakyat jadi tuan rumah negaranya. Itulah 
demokrasi Perancis: “waktu raja menetapkan hukum, rakyat sengsara. Giliran rakyat menetapkan hukum, raja mengalami nasib tragis.”

KALIMAT PENDEK

INJIL LUKAS 11

RHEMA HARI INI

BERSELANCAR DALAM KEBENARAN (MATIUS)