MENGAPA BANYAK ORANG SAMPAI MELUPAKAN TUHAN
Mengapa banyak orang yang sampai melupakan Tuhan dan hal-hal
rohani lainnya dan memilih untuk menghabiskan hidupnya untuk mencari dan
mengejar hal-hal yang ada dalam dunia ini?
Penulis Amsal bersaksi “Aku berlelah-lelah ya Allah, aku
berlelah-lelah sampai habis tenagaku.” Perkataan ini menyiratkan bahwa penulis
kitab Amsal dalam hidupnya ia telah bekerja keras, yang saking kerasnya ia
bekerja ia sampai berkata “sampai habis tenagaku.”
Namun, dalam segala jerih lelahnya, ia malah kehilangan apa
yang penting dan utama dalam hidup manusia, yaitu Tuhan. Itulah yang membuat
Dia berkata “aku ini lebih bodoh dari orang lain,” tidak kupelajari hikmat
sehingga ia tidak dapat mengenal “Yang Maha Kudus.”
Jika ia membandingkan dirinya dengan orang lain, penulis Amsal
merasa dirinya adalah orang yang terbodoh,” Ia tidak mengerti dan tidak
menyadari bahwa seluruh dunia ini dikendalikan, dipelihara dan dimiliki oleh
Tuhan.”
Ia dulu tidak pernah memikirkan mengenai adanya kuasa surga
yang ada di bumi dan tidak memikirkan mengenai siapakah yang mengendalikan
angin/alam hingga angin atau alam itu tidak menghancurkan manusia,
Ia juga tidak memikirkan mengenai siapakah yang telah
memeliharakan ikan di air yang menjadi sumber penghidupan manusia,
ia tidak memikirkan siapakah yang telah membatasi ujung bumi,
yang menjaga bumi tetap ada seperti sekarang, ia tidak memikirkan semuanya itu.
Penulis Amsal merasa itulah kebodohannya yang terbesar.
Kesadaran inilah yang membuat penulis kitab Amsal memberikan nasehat kepada
pembacanya untuk tidak seperti dia, untuk melihat apa yang penting dan utama
dalam hidup, apakah itu? FIRMAN ALLAH!
Seorang hamba Tuhan diundang ke sebuah persekutuan kaum pria.
Setelah menyampaikan Firman Tuhan, ada seorang bapak bertanya kepadanya:
“Mengapakah uang tidak boleh menjadi hal terpenting dalam hidup manusia,
bukankah manusia butuh uang, segala sesuatunya pun butuh uang?”
Sang hamba Tuhan berkata: “Manusia memang membutuhkan uang,
siapa di dunia ini yang tidak membutuhkan uang?” Namun, kita harus menyadari
bahwa ada yang
tidak bisa dibeli dengan uang, apakah itu? Kehidupan setelah
kematian, atau keselamatan hidup kita. Walaupun manusia butuh uang, namun uang
bukanlah satu-satunya bahkan bukan hal yang utama yang manusia harus cari.
Manusia bukan hanya butuh uang, namun manusia butuh Tuhan.”
Kebenaran seperti inilah yang juga disadari oleh penulis
Amsal, sehingga ia seolah-olah berkata “wahai manusia… ” Sadarlah ada yang
lebih berharga dari pada “apa yang ada dalam dunia ini” dan “apa yang dicari
manusia dalam dunia ini,” Apa yang jauh lebih berharga dari pada isi dunia ini?
Jawabannya adalah mengenal Tuhan.
Pengalaman yang sama juga membuat Rasul Paulus menyadari
pentingnya mengenal Tuhan. Ketika ia membandingkan segala kebanggaan dalam
dunia ini dengan pengenalan akan Allah dalam Kristus, maka ia menyebut semua
yang ada dalam dunia ini, semua yang dicari manusia dalam dunia ini seperti
sampah jika dibandingkan dengan Tuhan.
Sebuah perbandingkan yang sangat ekstrem dari Alkitab, nilai
dunia ini tidak sebanding dengan pengenalan akan Allah.
Kepada jemaat di kota Filipi, Rasul Paulus memberikan
kesaksian bagimana kehidupannya sebelum mengenal Tuhan dan setelah ada dalam
Tuhan.
“ … Jika ada orang lain
menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari ke delapan, dari bangsa
Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum
Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang
kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan
bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap
rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada
semuanya.
Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan
menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus .” Filipi 3:4-8.
SENIMENULISISIHATITUHAN