ALKITAB TIDAK PERNAH SALAH
Martin Luther menegaskan: “Alkitab tidak akan pernah salah …
[dan] Alkitab tidak dapat salah, yang pasti adalah Alkitab tidak dapat
bertentangan dalam dirinya sendiri; pertentangan dalam Alkitab hanya nampak
dalam mata orang-orang yang tidak berpengertian dan orang-orang munafik yang
keras hati/tidak mau bertobat.”
Apa yang Martin Luther katakan adalah benar, orang yang
sungguh-sungguh percaya Tuhan pasti tidak akan pernah berkata “Alkitab tidak
dapat dipercayai” atau berkata bahwa “Alkitab tidak benar,” sebab ia memahami
bahwa Alkitab bukanlah sekadar buku biasa yang ditulis oleh seorang manusia
tetapi Alkitab adalah Firman Allah. Sebagai Firman Allah, penulis sebenarnya
dari Alkitab adalah pribadi Allah sendiri yang berbicara melalui perantaraan
manusia.
Alkitab sendiri bersaksi bahwa Alkitab adalah benar dan dapat
dipercayai sebab di balik para penulis Alkitab ada Allah yang bekerja. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran. 2 Timotius 3:16. Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat
nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab
tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh
Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah. 2 Petrus 1:20-21.
Tidak ada bukti yang lebih kuat dapat meyakinkan kita bahwa
Alkitab adalah benar dan dapat dipercayai selain dari kesaksian Alkitab
sendiri. Klaim bahwa Alkitab adalah benar menjadi bukti penting dalam memahami
otoritas Alkitab ataupun peran Alkitab dalam kehidupan manusia di sepanjang
zaman.
Sebelum seseorang menafsirkan Alkitab, ada beberapa fondasi
teologi yang perlu diperhatikan dan hal-hal tersebut menjadi paradigma awal
bagi seseorang yang harus ada sebelum ia membaca dan menafsirkan kitab suci.
Kevin Vanhoozer dalam bukunya “Is There Meaning in the Text?” mengingatkan
bahwa masalah dalam penafsiran Alkitab bukan terletak pada metode yang sering
kali tidak sempurna tetapi pada diri dan keyakinan sang penafsir. Ada perbedaan
antara menafsir Alkitab dengan perspektif iman atau tanpa keyakinan iman.