FIRMAN ALLAH DAPAT DIPERCAYAI
Keyakinan iman seseorang akan Firman Allah menentukan apakah
seseorang dapat mempercayai Alkitab ataukah tidak. Dengan demikian ada kaitan
antara iman seseorang dengan logika berpikir yang ia miliki saat membaca Alkitab.
Pada satu sisi, keyakinan iman seseorang membuatnya dapat melihat kehadiran
Allah di balik penulisan kitab suci, tetapi di sisi yang lain, logika berpikir
yang dipengaruhi oleh keyakinan iman seseorang akan membuat iman orang tersebut
makin bertumbuh.
Untuk dapat membaca Alkitab dengan benar, seseorang perlu
untuk mendengarkan bagaimana Alkitab menjelaskan mengenai dirinya sendiri. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran. 2 Timotius 3:16 Rasul Paulus
dalam 2 Timotius 3:16 berkata bahwa segala tulisan adalah diilhamkan Allah.
Apakah dalam Perjanjian Lama, kita menemukan klaim yang mirip? Penulis kitab
Amsal juga menegaskan hal yang sama tetapi dalam perkataan yang berbeda. Ia berkata bahwa semua Firman Allah adalah murni. Semua
firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung
pada-Nya. Amsal 30:5.
Ketika kitab Amsal dituliskan, pada waktu itu memang belum ada
kitab-kitab Perjanjian Baru, di zamannya setidaknya ada dua kelompok kitab yang
sudah lengkap yang diterima sebagai Firman Allah, yakni kitab Taurat dan Para
Nabi. Penulis kitab Amsal dipakai Tuhan untuk menegaskan bahwa semua firman
Allah adalah murni.
Yang menarik adalah sebelum ia bertemu dengan kebenaran Firman
Tuhan, penulis kitab Amsal adalah orang yang hidup jauh dari Tuhan. Ia
menceritakan mengenai pengalaman hidupnya dalam ayat 1b-4. 13 Perkataan Agur bin Yake dari Masa. Tutur kata orang itu:
Aku berlelah-lelah, ya Allah, aku berlelah-lelah, sampai habis tenagaku. Sebab
aku ini lebih bodoh dari pada orang lain, pengertian manusia tidak ada padaku.
Juga tidak kupelajari hikmat, sehingga tidak dapat kukenal Yang Mahakudus.
Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin
dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang
telah menetapkan segala ujung bumi? Siapakah namanya dan siapa nama anaknya?
Engkau tentu tahu! Amsal 30:1-4.
Banyak orang mengerti betul apa yang dikatakan oleh penulis Amsal, yakni, apa artinya bekerja keras sedemikian rupa sehingga kita merasa kehabisan tenaga. Meskipun penulis kitab Amsal sudah bekerja keras sedemikian rupa, ia mengalami apa yang terjadi dengan penulis kitab pengkhotbah. Setelah ia bekerja sedemikian keras, yang ia rasakan hanyalah kesia-siaan dan kekosongan. Itulah sebabnya saat ia melirik ke belakang, ke masa lalunya, seperti seseorang yang saat berkendaraan melihat ke spion mobilnya, ia kemudian menemukan bahwa ia telah melewatkan apa yang utama dan penting dalam hidupnya; apakah itu? Apakah yang dia lewatkan adalah kesempatan untuk senang-senang atau kesempatan untuk bersosialisasi atau waktu bersama keluarga? Ternyata bukan itu, yang terlewatkan dalam hidupnya adalah “TUHAN.”