Tulisan Firman dalam pencerahan yang sederhana untuk menghidupi hidup yang sederhana menjadi DASYAT BERSAMA TUHAN.
Saturday, August 29, 2026
Saturday, July 11, 2026
MENYEDIAKAN "PERAHU" DI TENGAH KESIBUKAN
MENYEDIAKAN "PERAHU" DI TENGAH
KESIBUKAN (10 Menit)
Masuk ke ayat 9: "Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya
karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya."
Ini adalah detail
yang sangat menarik. Mengapa Yesus membutuhkan perahu? Apakah Yesus takut pada
orang banyak? Tentu tidak. Yesus menyuruh menyediakan perahu sebagai pembatas,
sebuah jarak aman (jarak spasial). Mengapa? Supaya Dia tidak terhimpit oleh desakan
fisik orang banyak, sehingga Dia tetap bisa mengajar mereka dengan efektif dari
atas perahu. Perahu itu memberikan ruang dan keheningan di tengah
kekacauan kerumunan.
Mari kita bawa ilustrasi dan ayat ini ke dalam konteks hidup kita hari ini sebagai masyarakat umum. Setiap hari, dari Senin sampai Sabtu, bahkan mungkin sampai Minggu, hidup kita dipenuhi oleh "himpitan" kerumunan dunia.
· Himpitan tagihan bulanan.
· Himpitan target pekerjaan dari atasan.
· Himpitan urusan rumah tangga dan anak-anak.
· Belum lagi himpitan notifikasi media sosial
di ponsel kita yang berbunyi setiap menit.
Pikiran kita begitu penuh sesak dan
berisik. Akibatnya apa? Kita tidak lagi bisa mendengar suara Tuhan yang lembut.
Kita terlalu lelah untuk membaca firman-Nya. Pelayanan kita di gereja menjadi
kering karena kita melayani dalam kondisi rohani yang terhimpit dan stres.
Wednesday, July 1, 2026
MEMBONGKAR KONTEKS SEJARAH BAHASA ROH DI JEMAAT KORINTUS 1 Korintus 14:21-25.
MEMBONGKAR
KONTEKS SEJARAH BAHASA ROH DI JEMAAT KORINTUS
1 Korintus 14:21-25.
21. Dalam hukum Taurat ada tertulis: ”Oleh
orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku
akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan
Aku, firman Tuhan.”
22. Karena itu karunia bahasa roh adalah
tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman;
sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak
beriman, tetapi untuk orang yang beriman.
23. Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul
bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah
orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka
katakan, bahwa kamu gila?
24. Tetapi kalau semua bernubuat, lalu
masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua
dan diselidiki oleh semua;
25. segala rahasia yang terkandung di dalam
hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku:
”Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.”
MEMBONGKAR KONTEKS SEJARAH BAHASA ROH DI JEMAAT KORINTUS - 1 Korintus 14:21-25 - PDT KARYADI M.
Deskripsi:
Apa sebenarnya yang terjadi di jemaat Korintus sehingga Rasul Paulus harus memberikan teguran keras mengenai penggunaan Bahasa Roh?
Dalam khotbah kali ini, kita akan menggali lebih dalam konteks sejarah dan teologis di balik 1 Korintus 14:21-25. Mengapa bahasa roh bisa menjadi "tanda bagi orang yang tidak percaya" dan bagaimana pengaruh budaya paganisme di Korintus membentuk praktik ibadah mereka saat itu?
Mari kita pelajari prinsip penting tentang ketertiban, pembangunan jemaat, dan bagaimana setiap karunia Roh Kudus seharusnya memuliakan Tuhan, bukan menonjolkan diri sendiri.
📌 Poin Utama Khotbah:
- Makna kutipan nubuat Yesaya dalam tulisan Paulus.
- Perbedaan esensial antara Karunia Bahasa Roh dan Bernubuat.
- Mengapa "pengertian" jauh lebih penting daripada sekadar "fenomena" dalam ibadah.
- Latar belakang sejarah budaya "ekstasi" di kota Korintus kuno.
Semoga pembahasan ini membawa pencerahan bagi iman kita semua. Selamat menyaksikan dan kiranya Roh Kudus menuntun kita dalam seluruh kebenaran.
Dukung Channel Ini: Jika video ini memberkati Anda, silakan klik LIKE, SHARE, dan SUBSCRIBE untuk mendapatkan update khotbah dan pelajaran Alkitab lainnya dari PDT KARYADI M.
Thursday, June 25, 2026
BERTOBAT - MARKUS 1:21-28
Video ini membahas khotbah Pdt. Karyadi M mengenai peristiwa di rumah ibadat di Kapernaum (Markus 1:21-28), di mana Yesus menunjukkan kuasa-Nya dengan mengajar dan mengusir roh jahat. Berikut adalah poin-poin utama dari video tersebut:
- Yesus Mengajar dengan Kuasa: Berbeda dengan ahli Taurat, Yesus mengajar dengan otoritas yang membuat orang takjub (0:32-0:43). Namun, banyak orang di Kapernaum dan Nazaret hanya berhenti pada rasa kagum tanpa benar-benar percaya atau membangun hubungan pribadi dengan-Nya (2:33-3:15, 7:18-7:27).
- Kehadiran Iblis di Gereja: Pdt. Karyadi menegaskan bahwa gereja bukanlah tempat yang bebas dari pengaruh iblis. Orang yang dirasuki setan di gereja seringkali bukan orang dengan manifestasi fisik yang mencolok, melainkan mereka yang memiliki sikap buruk seperti sombong, suka nyinyir, suka mengadu domba, atau memamerkan kekayaan dan jabatan (8:45-11:06, 17:38-17:49).
- Respons terhadap Firman Tuhan: Ketika firman Tuhan ditegaskan, orang yang kerasukan iblis cenderung merasa "panas" atau marah alih-alih bertobat. Pdt. Karyadi menasihati agar jemaat mawas diri dan segera bertobat saat ditegur oleh firman, bukan justru membenci hamba Tuhan yang menyampaikan pesan tersebut (14:06-14:55, 16:38-16:50).
- Kesimpulan: Fokus utama kekristenan bukanlah sekadar terkagum-kagum pada mukjizat atau khotbah yang hebat, melainkan memiliki hubungan pribadi yang nyata dengan Yesus, mentaati firman-Nya, dan membiarkan Roh Kudus memimpin hidup sehingga kita menjadi saksi yang benar (20:14-20:58, 26:11-27:01).
Tuesday, June 23, 2026
HIKMAT MENGGUNAKAN KARUNIA: UNTUK SAYA ATAU SESAMA? - 1 KORINTUS 14:15-20 - PDT KARYADI M
Berdasarkan khotbah Pdt. Karyadi M. dalam pembahasan 1 Korintus 14:15-20, menjadi dewasa dalam pemikiran memiliki beberapa makna penting:
- Memiliki Hikmat dan Akal Budi (28:44-28:56): Kedewasaan berarti tidak lagi bersikap egosentris seperti anak-anak. Orang dewasa menggunakan logika dan akal budi yang dikaruniakan Tuhan untuk mengambil keputusan, bukan hanya mencari kepuasan emosi atau pamer karunia pribadi (24:25-24:31).
- Fokus pada Pembangunan Sesama (24:31-24:54): Kedewasaan rohani diukur dari kerinduan untuk membangun orang lain (edifikasi). Seseorang yang dewasa akan memastikan bahwa tindakan atau karunia yang ia gunakan dapat dimengerti dan memberi manfaat bagi orang di sekitarnya, bukan justru menjadi batu sandungan atau kebingungan (17:21-17:50).
- Mampu Melihat Kebutuhan Orang Lain (28:47-28:50): Berbeda dengan anak-anak yang cenderung hanya memikirkan diri sendiri, orang yang dewasa secara pemikiran mampu melihat situasi, menempatkan diri, dan bertindak dengan cara yang tepat sesuai konteks (seperti memilih menggunakan bahasa yang dimengerti jemaat daripada bahasa roh yang tidak dipahami orang lain dalam ibadah raya) (26:26-26:30).
- Ketulusan yang Berpadu dengan Pengetahuan (27:54-28:00): Menjadi dewasa bukan berarti kehilangan ketulusan, tetapi menyeimbangkan antara sifat anak-anak yang murni/tidak jahat dengan hikmat dan pengetahuan yang matang (27:42-27:57).
Secara singkat, pesan utamanya adalah bahwa iman dan akal budi tidak untuk dipertentangkan, melainkan berjalan bersama untuk memuliakan Tuhan dalam komunitas yang sehat dan tertib (28:59-29:20).
Tuesday, June 16, 2026
Tuesday, June 9, 2026
AJARAN TENTANG ROH KUDUS, Kisah RASUL 5:3-4
<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/s8skN87ioic?si=K1uG0ZVHlVGuWS3M" title="YouTube video player" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>